infopildun.com – Federasi Norwegia Desak Infantino Mundur dari jabatan Presiden FIFA setelah krisis tata kelola organisasi sepak bola dunia semakin dalam. Federasi Sepak Bola Norwegia (NFF) menyatakan tidak lagi memiliki kepercayaan terhadap kepemimpinan Gianni Infantino. Sikap tersebut diumumkan Presiden NFF, Lise Klaveness, setelah rapat dewan federasi pada Jumat, 7 Agustus 2026.
Desakan Norwegia muncul setelah polemik besar mengenai rencana FIFA mengomersialisasikan sebagian kepentingan bisnis kompetisinya melalui perusahaan baru. FIFA akhirnya meninggalkan proposal tersebut setelah menghadapi penolakan keras. Namun, bagi NFF, pembatalan rencana itu belum menyelesaikan persoalan mengenai institutional trust atau kepercayaan institusional terhadap kepemimpinan FIFA.
Reuters melaporkan bahwa Klaveness menilai Infantino tidak lagi memiliki tingkat kepercayaan institusional yang dibutuhkan untuk memimpin FIFA pada masa penuh ketegangan. Meski demikian, Infantino masih menjabat sebagai Presiden FIFA dan tetap mempunyai pendukung kuat di luar Eropa.
Federasi Norwegia Desak Infantino Mundur, Apa yang Terjadi?
NFF mengambil posisi tegas setelah kontroversi FIFA Forward Enterprise (FFE) mengguncang sepak bola internasional. Proposal tersebut ingin menyatukan berbagai aktivitas komersial FIFA dalam sebuah entitas bisnis khusus.
Rencana itu mencakup hak siar, sponsor, lisensi, tiket, hospitality, serta penyelenggaraan turnamen. Berdasarkan proposal yang dilaporkan Reuters, FIFA menilai entitas tersebut sekitar US$20 miliar. FIFA kemudian membuka kemungkinan menjual kepemilikan minoritas hingga 20% kepada investor eksternal.
Skema tersebut berpotensi menghasilkan miliaran dolar. Reuters menyebut FIFA sempat menargetkan sekitar US$4,2 miliar dari penjualan kepentingan tersebut.
Namun, persoalannya tidak berhenti pada nilai investasi. Kritik juga muncul terhadap proses pengambilan keputusan dan konsekuensinya bagi football governance. Sejumlah pemangku kepentingan mempertanyakan apakah aset komersial kompetisi FIFA seharusnya melibatkan kepemilikan investor swasta.
Lise Klaveness Kehilangan Kepercayaan terhadap Kepemimpinan Infantino
Lise Klaveness bukan figur baru dalam perdebatan mengenai tata kelola sepak bola. Mantan pemain tim nasional Norwegia dan pengacara tersebut pertama kali memimpin NFF pada 2022. Pada Maret 2026, ia kembali terpilih untuk masa jabatan dua tahun.
Klaveness juga beberapa kali menyuarakan kritik terhadap arah kebijakan FIFA. Karena itu, ketegangan antara NFF dan kepemimpinan Infantino sebenarnya telah berkembang sebelum kontroversi FFE.
Sikap Resmi Federasi Sepak Bola Norwegia
Setelah rapat dewan, Klaveness menyampaikan bahwa NFF tidak mempunyai kepercayaan terhadap Infantino. Menurut Reuters, NFF juga tidak mendukung kepemimpinannya pada pemilihan sebelumnya.
Klaveness menilai kerja sama sepak bola internasional kini mengalami perpecahan serius. Oleh sebab itu, NFF melihat perubahan kepemimpinan sebagai salah satu jalan untuk memulihkan persatuan.
Namun, posisi Norwegia belum otomatis menentukan masa depan Presiden FIFA. FIFA memiliki 211 asosiasi anggota, sehingga dinamika politik organisasi jauh lebih luas daripada hubungan FIFA dengan federasi Eropa.
Mengapa Kepercayaan terhadap Infantino Dipersoalkan?
Kontroversi FFE menjadi pemicu terbaru, tetapi kritik NFF mencakup persoalan yang lebih luas. Reuters melaporkan bahwa Klaveness juga menyoroti keputusan dan tindakan FIFA lain yang menurutnya memengaruhi kepercayaan terhadap organisasi.
Salah satunya berkaitan dengan FIFA Peace Prize yang pertama kali diberikan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump. NFF sebelumnya meminta penghargaan tersebut dihentikan karena menilai FIFA perlu menjaga prinsip netralitas politik.
Selain itu, NFF juga mempersoalkan intervensi dalam urusan disipliner selama Piala Dunia 2026. Rangkaian peristiwa tersebut memperbesar perdebatan mengenai accountability, independensi, serta batas kewenangan Presiden FIFA.
Kontroversi Komersialisasi FIFA Memperbesar Tekanan
Rencana FIFA Forward Enterprise membawa perdebatan tentang commercial rights ke tingkat yang berbeda. FIFA menjelaskan bahwa konsep FFE bertujuan menggabungkan aktivitas komersial dan operasional turnamen dalam perusahaan yang lebih terfokus.
FIFA berargumen bahwa model tersebut dapat membuka nilai komersial yang sebelumnya belum dimanfaatkan. Dana tambahan kemudian dapat mendukung pembangunan sepak bola, termasuk stadion dan pusat latihan nasional.
Sebelum kontroversi membesar, Infantino memang menekankan potensi ekonomi FIFA setelah Piala Dunia 2026. FIFA memperkirakan pendapatan siklus 2023–2026 melampaui US$15 miliar.
Namun, UEFA dan sejumlah konfederasi mempertanyakan model investasi tersebut. Kritik terutama menyasar kepemilikan eksternal atas bagian bisnis yang terkait dengan kompetisi FIFA.
Rencana yang Akhirnya Dibatalkan
Pada 28 Juli, FIFA memulai proses konsultasi mengenai FFE dengan 211 asosiasi anggota dan Dewan FIFA. Organisasi itu menyatakan proposal hanya dapat berjalan jika memperoleh dukungan mayoritas asosiasi anggota serta persetujuan perubahan regulasi.
Akan tetapi, penolakan berkembang cepat. UEFA dan 55 asosiasi anggotanya mengambil posisi menentang proposal tersebut. Associated Press melaporkan bahwa federasi Eropa bahkan sepakat tidak mengikuti kompetisi FIFA selama proposal itu tetap berjalan.
Concacaf kemudian juga menolak rencana tersebut. Tekanan dari berbagai pihak akhirnya membuat FIFA meninggalkan proposal FFE.
Meski demikian, pembatalan itu tidak langsung mengakhiri krisis. Sebaliknya, perdebatan beralih dari substansi investasi menuju pertanyaan tentang kepemimpinan dan proses pengambilan keputusan FIFA.
Kekhawatiran terhadap Tata Kelola FIFA
Dalam perspektif corporate governance, masalah utamanya berkaitan dengan siapa yang menentukan penggunaan aset organisasi. FIFA merupakan asosiasi nirlaba yang dimiliki secara kolektif oleh federasi anggotanya.
Karena itu, keputusan mengenai aset komersial bernilai miliaran dolar membutuhkan governance framework yang transparan. Konsultasi dengan stakeholder juga menjadi unsur penting.
Kritikus menilai keputusan strategis sebesar itu tidak seharusnya berkembang tanpa pembahasan luas sejak awal. Dalam konteks tersebut, transparency dan accountability bukan sekadar istilah administratif. Keduanya menentukan legitimasi keputusan organisasi.

Desakan Norwegia Bisa Memperbesar Tekanan terhadap FIFA
Keputusan Federasi Norwegia Desak Infantino Mundur memiliki bobot politik karena muncul ketika hubungan FIFA dan UEFA sedang tegang. Namun, belum ada bukti bahwa mayoritas anggota FIFA akan mengikuti posisi NFF.
Norwegia berharap federasi Eropa lain mengambil sikap serupa. Jika itu terjadi, tekanan terhadap kepemimpinan FIFA tentu dapat meningkat.
Namun, struktur politik FIFA membuat perubahan kepemimpinan tidak sederhana. Setiap asosiasi anggota memiliki suara dalam Kongres FIFA. Oleh sebab itu, dukungan dari Afrika, Asia, Amerika Utara, Amerika Selatan, dan kawasan lainnya tetap sangat menentukan.
Situasi tersebut menunjukkan perbedaan kepentingan dalam tata kelola sepak bola global. Federasi Eropa mempunyai kekuatan olahraga dan ekonomi besar. Sebaliknya, banyak federasi di kawasan lain sangat menghargai program pembangunan dan distribusi pendanaan FIFA.
Dukungan terhadap Infantino Belum Sepenuhnya Hilang
Krisis ini tidak berjalan satu arah. Reuters melaporkan bahwa Argentina dan Meksiko memberikan dukungan kepada Infantino ketika tekanan terhadap Presiden FIFA meningkat.
Confederation of African Football (CAF) juga tetap berada di kubu yang mendukung kepemimpinannya. Sementara itu, sejumlah anggota Asia, termasuk Qatar dan Indonesia, dilaporkan masih memberikan dukungan.
Posisi Meksiko cukup menarik karena berbeda dengan sikap Concacaf yang meminta peninjauan menyeluruh terhadap kepemimpinan FIFA. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa konfederasi dan federasi nasional tidak selalu mempunyai pandangan identik.
Sebelum krisis FFE muncul, kekuatan politik Infantino bahkan terlihat sangat besar. Pada 18 Juli, FIFA menyatakan lebih dari 200 asosiasi anggota telah menjanjikan dukungan bagi pencalonannya kembali.
Dengan demikian, desakan NFF belum berarti Infantino kehilangan mayoritas politik. Namun, kontroversi terbaru jelas menguji kekuatan dukungan tersebut.
Apa Dampaknya terhadap Masa Depan Kepemimpinan FIFA?
Pertarungan mengenai masa depan FIFA sekarang bergerak melampaui proposal investasi. Persoalan yang lebih mendasar menyangkut institutional legitimacy, yakni sejauh mana anggota dan pemangku kepentingan mempercayai otoritas organisasi.
FIFA membutuhkan dukungan luas untuk mengelola turnamen internasional. Karena itu, konflik berkepanjangan dengan UEFA dapat menciptakan masalah institusional yang serius.
Tekanan Politik dalam Sepak Bola Internasional
FIFA berbeda dari perusahaan biasa. Organisasi tersebut bergantung pada kerja sama federasi nasional, konfederasi, pemain, klub, sponsor, dan penyelenggara kompetisi.
Oleh sebab itu, konflik antarlembaga dapat mengganggu stabilitas football governance. Ancaman UEFA untuk tidak mengikuti kompetisi FIFA menunjukkan seberapa besar konsekuensi perselisihan tersebut.
Namun, dukungan dari federasi di luar Eropa memberikan Infantino ruang politik. Kondisi itu menciptakan keseimbangan kekuatan yang rumit.
Jika lebih banyak federasi meminta perubahan kepemimpinan, tekanan tentu akan meningkat. Sebaliknya, jika mayoritas anggota tetap mendukung Infantino, desakan Eropa mungkin tidak cukup untuk mengubah kepemimpinan FIFA.
Tantangan Reformasi Tata Kelola Sepak Bola
Krisis terbaru memperlihatkan bahwa governance reform tidak hanya berkaitan dengan pergantian figur. FIFA juga menghadapi pertanyaan tentang mekanisme konsultasi, pengawasan, transparansi, dan distribusi kekuasaan.
Sistem yang sehat membutuhkan accountability ketika pimpinan membuat keputusan strategis. Selain itu, aturan yang jelas perlu mencegah potensi conflict of interest.
FIFA juga perlu menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan fungsi utamanya sebagai pengatur sepak bola dunia. Pendapatan komersial memang membantu pengembangan olahraga. Namun, legitimasi institusi bergantung pada kepercayaan anggotanya.
Karena itu, penyelesaian krisis membutuhkan lebih dari sekadar pembatalan FFE. FIFA perlu meyakinkan anggotanya bahwa struktur pengambilan keputusan memiliki pengawasan yang memadai.
Masa Depan Infantino Setelah Desakan Federasi Norwegia
Federasi Norwegia Desak Infantino Mundur menjadi perkembangan penting dalam krisis kepemimpinan FIFA pada Agustus 2026. Lise Klaveness secara terbuka menyatakan hilangnya kepercayaan NFF terhadap Presiden FIFA setelah kontroversi komersialisasi memperuncing ketegangan.
Artikel Terkait:
Investasi Pariwisata Global Tembus US$1 Triliun: Peluang Baru bagi Destinasi Wisata Dunia
FIFA Akhirnya Bayar Hutang ke Yordania, Sorotan Baru Transparansi Keuangan
Namun, Gianni Infantino belum mundur dan masih menjabat sebagai Presiden FIFA. Selain itu, dukungan dari Argentina, Meksiko, CAF, serta sejumlah federasi lainnya menunjukkan bahwa peta politik FIFA masih terbelah.
Karena itu, perkembangan berikutnya akan sangat bergantung pada sikap federasi anggota, UEFA, konfederasi lain, serta respons Infantino sendiri. Apa pun hasilnya, krisis ini telah membawa isu institutional trust, transparansi, dan reformasi tata kelola FIFA kembali ke pusat perhatian sepak bola dunia.
